Apa itu Kearifan Lokal ?

Kearifan Lokal (Local wisdom ) atau dapat diartikan sebagai sebuah kebijaksanaan lokal, atau Kebijaksanaan dari daerah setempat, atau Kebijaksanaan yang didapat dari Pengalaman Leluhur, yang pada akhirnya menjadi pakem secara turun temurun, atau nilai-nilai yang baik dan benar yang diturunkan oleh Leluhur demi Keselamatan, Kedamaian, Ketentraman, dan Kesejahteraan anak cucunya. Adapun ciri-ciri Ciri Kearifan Lokal, antara lain:

  • Mampu mengendalikan diri sendiri dan lingkungannya
  • Memiliki Benteng untuk bertahan dan menolak pengaruh Budaya Asing
  • Mampu menyaring Budaya Asing jelek meskipun secara umum budaya senkretis tetap menempel pada pribadi masyarakat Nusantara
  • Mampu Membaca dan Memberi Arah Perkembangan Budaya Lokal (contoh perubahan denda pada Hutan Larangan Adat)
  • Mampu menyatukan memperngaruhi Budaya Asing untuk menerima Budaya Lokal

Kearifan Lokal merupakan Sintesa dari hasil thesis anti thesis yang panjang dan berevolusi bersama dengan masyarakat, dan lingkungan di wilayahnya, berdasarkan apa yang sudah dialami oleh masyarakat setempat.

Kearifan Lokal memiliki perbedaan antar setiap daerah, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan, mengingat wilayah Nusantara memiliki musim dan geografis yang kurang lebih sama. Perbedaan yang mendasar, dapat dilihat dari sisi perbedaan lingkungan dan kebutuhan hidup masyarakat setempat dengan tempat yang lain.

Beberapa contoh Kearifan Lokal :

  • Cingcowong ( Sunda / Jawa Barat )
    Upacara meminta Hujan, yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Luragung, guna untuk menunjukan bagaimana suatu permintaan kepada yang Maha Kuasa harus dilakukan.
  • Awig-Awig ( Lombok Barat dan Bali )
    Pedoman untuk bertindak, dan bersikap terutama dalam hal berinteraksi dan mengolah sumber daya alam, dan lingkungan di daerah Lombok Barat dan Bali.
  • Bebie ( Muara Enim – Sumatera Selatan )
    Tradisi perayaan rasa syukur atas panen yang sukses, dan agar menanam, dan memanen padi dapat dilakukan tanpa halangan.
  • Hutan Larangan Adat ( Desa Rumbio Kec. Kampar Prov. Riau )
    Agar masyarakat sekitar secara bersama-sama melestarikan hutan, dimana ada peraturan untuk tidak boleh menebang pohon di hutan tersebut, dan akan dikenakan denda seperti beras 100 kg, atau berupa uang sebesat Rp 6.000.000,- jika melanggar. (denda yang tertulis tersebut adalah hasil dari perubahan zaman, yang mana esensinya tetap sama)

Demikian secara singkat, apa yang kita sebut dan harus kita lestarikan

Foto : http://sunardi07.blogspot.co.id/